Kebaikan Dian
Kebaikan
Dian
Rekonstruksi
Karya
: Fahrudin Bustomi
Seekor
anak badak ditemukan Dian dalam keadaan terluka parah. Sepertinya anak badak itu
terjebak di antara perkelahian kawanan badak. Dia ditinggalkan induknya begitu
saja dalam keadaan tak berdaya.
“Apa
yang terjadi padamu, Anak Hebat?” kata Dian. Tanpa pikir panjang lagi, Dian mengajak
anak badak itu pergi. Dia tidak memikirkan bahwa badak itu bukanlah teman yang
pas untuk kangguru. Dian hanya ingin menyelamatkan anak badak yang sudah hampir
mati itu.
Untungnya,
tidak ada anggota kelompok Dian yang keberatan dengan keputusannya itu. Semua
turut merasa iba melihat Dinar. Bahkan, mereka beramai-ramai mencarikan nama
untuk badak jantan itu. Dinar.
Awalnya,
Dian merasa bingung. Meski dia pernah memiliki bayi, Dinar bukanlah Kangguru.
Dia tidak tahu cara membesarkannya. Namun karena hatinya yang penyayang. Dian
tidak tega melepas Dinar. Akhirnya dia putuskan untuk mengurus anak badak itu
sendiri. Sama seperti saat dia mengurus anaknya dulu.
Dian
mulai menyusui Dinar hingga tubuhnya semakin kuat. Saat itu Dian baru saja
kehilangan anaknya yang meninggal karena penyakit. Jadi, air susunya masih ada.
Tubuh Dinar pun berkembang cepat.
Sebenarnya
itu bukanlah hal yang aneh. Dian dan kawannya adalah makhluk penyayang.
Apalagi, ternyata hewan ini pun memiliki perilaku lembut. Kangguru tidak
segalak tampangnya.
Karena
bukan hewan pemakan rumput, Dian pun memberi Dinar buah-buahan saja. Dian tidak
pernah memperkenalkan Dinar pada rumput.
“Dian,
Dinar itu anak badak. Kamu harus memberinya rumput,” begitu nasihat Paman Be. Kangguru
jantan itu adalah pemimpin kelompok Dian. Punggungnya berwarna ke abu-abuan.
Paman Be adalah Kangguru tertua di dalam kelompok itu.
“Tidak,
Paman. Belum saatnya. Nanti kalau Dinar sudah cukup besar, baru aku akan
memberitahu apa yang terjadi. Saat itu, dia boleh memakan rumput dan
meninggalkan kita,” ucap Dian lirih.
Dinar
sendiri bukannya tidak merasa ada yang aneh dengan dirinya. Rasa heran itu
awalnya hanya disimpan di dalam hati.
“Bu,
kenapa kulitku berbeda dengan Ibu? Apa aku bukan anak Ibu?” suatu ketika Dinar
akhirnya mengajukan pertanyaan.
Dian
langsung memeluk Dinar. Dia dan kelompok Kanggurunya tidak pernah menganggap Dinar
sebagai hewan yang tak sejenis dengan mereka. Semua memperlakukan Dinar seperti
anggota keluarga.
“Tentu
saja kamu anak Ibu. Bagaimanapun warna kulit dan bentukmu, kamu tetap
kesayangan Ibu.”
Dinar
paling suka berada dalam pelukan Ibu. Rasanya sangat hangat. Selama ini, Ibu
selalu membawanya berkeliling hutan sambil membawanya di kantung. Dinar kadang
kesulitan karena kaki-kakinya tidak bisa memeluk dengan kencang. Namun Ibu
selalu mendekap Dinar dengan erat, sehingga anak badak itu tidak takut jatuh
meski dibawa melompat ke sana kemari.
Anak-anak
Kangguru selalu berada dalam kantung ibunya hingga berusia tiga tahun. Awalnya Dian
pun ingin begitu. Namun ketika usianya baru menjelang dua tahun, Dinar sudah
menjadi terlalu berat untuk digendong. Akhirnya, Dinar pun berlarian di
belakang Ibunya.
Di
dalam hutan itu, bukanlah pemandangan aneh melihat mereka. Sekelompok Kangguru
berjumlah dua belas, ditambah seekor badak muda. Meski pernah bertanya, Dinar
tidak merasa dia bukan bagian kelompok itu. Walau mereka tidak mirip, Dinar
selalu yakin Dian adalah ibunya.
Perlahan-lahan,
tanduk mulai tumbuh di sekitar kepala Dinar. Itu menandakan hewan itu sudah
semakin besar. Suatu ketika, sekelompok pemburu mengejar Dian dan kelompoknya.
Para pemburu itu ingin membunuh Kangguru untuk berbagai alasan. Dinar marah dan
balas menyerang dan menyeruduknya. Sebelum sempat menembakkan senjata, para
pemburu sudah kocar-kacir. Dinar bangga bisa membela ibunya.
Namun
di sisi lain, Dian pun merasa sudah waktunya untuk memberitahu Dinar. Maka,
dipanggilnya badak muda kesayangannya itu.
“Nak,
Ibu ingin menceritakan sebuah cerita, padamu. Maukah kamu mendengarnya?”
tanyanya lembut.
Dinar
yang sudah duduk dengan tenang pun menganggukkan kepala. “Tentu saja aku mau,
Bu.”
“Beberapa
tahun yang lalu, ada seekor anak badak yang terluka. Sekelompok Kangguru
menemukannya...” Dian pun mulai bercerita. Kangguru itu merasa ada kesedihan di
hatinya. Tapi tidak ada pilihan lain. Dinar harus tahu asal-usulnya.
“Aku
tahu, anak badak itu bernama Dinar. Iya kan, Bu?” kata Dinar dengan enteng, begitu
cerita ibunya selesai. Dian terpana.
“Bagaimana
mungkin kamu tahu?”
“Ssst,
Ibu jangan marah, ya. Paman Be sudah menceritakan semuanya.”
Dian
tidak bisa lagi berkata apa-apa. Diperhatikannya wajah Dinar yang datar.
“Kamu
tidak kaget? Tidak marah kepada Ibu?”
Dinar
menggeleng. Tawa kecilnya terdengar. “Aku kaget, tapi hanya sedikit. Aku kan
bisa melihat kita ini tidak mirip, Bu,” guraunya. “Lagi pula, kenapa aku harus
marah pada Ibu?”
Dian
merasa air matanya menggenang.
“Ibu
tidak pernah bicara jujur selama ini,’ kata Dian dengan matanya yang
berkaca-kaca.
Dinar
mendekat, menggosok-gosokkan kepalanya ke dada ibunya.
“Aku
lebih suka menjadi anak Ibu saja.”
Dian
memeluk Dinar penuh kasih-sayang. Kepala badak muda itu dielus-elusnya dengan
lembut.
“Apa
kamu ingin makan rumput?” tanya Dian tiba-tiba.
“Entahlah.
Setelah selama ini hanya makan buah, aku sepertinya lebuh suka tetap begitu.
Apa Ibu keberatan?”
“Tentu
saja tidak, Nak,” air mata Dian pun tumpah.
Komentar
Posting Komentar